Kamis, 03 Juni 2010

Kisah-Kisah Keajaiban Perang di Gaza, Palestina


Gaza
, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.


Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel sangat kesulitan.

Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.

Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka”mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.

Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.


Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.


Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata “kuno”.

Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnahs, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.

Berikut ini adalah rangkuman kisah-kisah “ajaib” tersebut dari berbagai sumber untuk kita ingat dan renungkan.

Pasukan "Berseragam Putih" di Gaza
Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri mengakui adanya pasukan berseragam putih itu.

Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.

Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.

Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.

Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”

Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”

Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya, “Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawaban satu-satunya yang ia miliki.
Suara Tak Bersumber
Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan).

Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.

“Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi.

Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak.

Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali.

“Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.

Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesualu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid itu lagi, melalui lidah khatib.

Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan,

“Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”

Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.

Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis. “Kenapa kalian menangis?” tanyanya.

“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya.
Saksi Serdadu Israel
Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh mujahidin Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan hal serupa.

Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Channel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan buta.

“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta,” kata anggota pasukan ini.

Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana menghilangnya.

Masih dari Channel 10, seorang Lentara Israel lainnya mengatakan, “Kami berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot panjang. Kami tembak dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”

Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada Channel 10, siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu?
Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh
Di saat para mujahidin terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut membantu, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.

Sebuah kejadian “aneh” terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah AI Maghraqah. Saat itu para mujahidin sedang memasang ranjau. Di saat mengulur kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki mereka. Bom pun langsung jatuh ke lokasi itu.

Untunglah para mujahidin selamat. Namun, kabel pengubung ranjau dan pemicu yang tadi hendak disambung menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.

Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi di mana ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.

Apa daya, kaum Mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas ranjau.

Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat pemandangan itu. Sebagian yang lain berdoa, “allahumma kama lam tumakkinna minhum, allahumma la tumakkin lahum,” yang maknanya, “Ya Allah, sebagaimana engkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga lidak memiliki kesempatan serupa.”

Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan dahsyat persis di lokasi penanaman ranjau yang tadinya tak berfungsi.

Setelah Tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan lersebut, para mujahidin segera melihal lokasi ledakan. Sungguh aneh, ternyata seluruh ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari mana datangnva ledakan? Wallahu a’lam.


Kisah-Kisah Keajaiban Perang di Gaza, Palestina 2

Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan artileri ke salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar ke rumah sebelahnya, para mujahidin dihinggapi rasa khawatir jika api itu semakin tak terkendali.

Seorang dari mujahidin itu lalu berdoa,”Wahai Dzat yang merubah api menjadi dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu dengan kekuatan-Mu.”

Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam. Para niujahidin menangis terharu karena mereka merasa Allah Subhanuhu wa Ta’ala (SWT) telah memberi pertolongan dengan terkabulnya doa mereka dengan segera.
Merpati dan Anjing
Seorang mujahid Palestina menuturkan kisah “aneh” lainnya kepada situs Filithin Al Aan (25/1/ 2009). Saat bertugas di wilayah Jabal Ar Rais, sang mujahid melihat seekor merpati terbang dengan suara melengking, yang melintas sebelum rudal-rudal Israel berjatuhan di wilayah itu.

Para mujahidin yang juga melihat merpati itu langsung menangkap adanya isyarat yang ingin disampaikan sang merpati.

Begitu merpali itu melintas, para mujahidin langsung berlindung di tempat persembunyian mereka. Ternyata dugaan mereka benar. Selang beberapa saat kemudian bom-bom Israel datang menghujan. Para mujahidin itu pun selamat.

Adalagi cerita “keajaiban” mengenai seekor anjing, sebagaimana diberitakan situs Filithin Al Aan. Suatu hari, tatkala sekumpulan mujahidin Al Qassam melakukan ribath di front pada tengah malam, tiba-tiba muncul seekor anjing militer Israel jenis doberman. Anjing itu kelihatannya memang dilatih khusus untuk membantu pasukan Israel menemukan tempat penyimpanan senjata dan persembunyian para mujahidin.

Anjing besar ini mendekat dengan menampakkan sikap tidak bersahabat. Salah seorang mujahidin kemudian mendekati anjing itu dan berkata kepadanya, “Kami adalah para mujahidin di jalan Allah dan kami diperintahkan untuk tetap berada di tempat ini. Karena itu, menjauhlah dari kami, dan jangan menimbulkan masalah untuk kami.”

Setelah itu, si anjing duduk dengan dua tangannya dijulurkan ke depan dan diam. Akhirnya, seorang mujahidin yang lain mendekatinya dan memberinya beberapa korma. Dengan tenang anjing itu memakan korma itu, lalu beranjak pergi.
Kabut pun Ikut Membantu
Ada pula kisah menarik yang disampaikan oleh komandan lapangan Al Qassam di kamp pengungsian Nashirat, langsung setelah usai shalat dhuhur di masjid Al Qassam (17/1/2009).

Saat itu sekelompok mujahidin yang melakukan ribath di Tal Ajul terkepung oleh tank-tank Israel dan pasukan khusus mereka. Dari atas, pesawat mata-mata terus mengawasi.

Di saat posisi para mujahidin terjepit, kabut tebal tiba-tiba turun di malam itu. Kabut itu lelah menutupi pandangan mata tentara Israel dan membantu pasukan mujahidin keluar dari kepungan.
Kasus serupa diceritakan oleh Abu Ubaidah. salah satu pemimpin lapangan Al Qassam, sebagaimana ditulis situs almesryoon.com (sudah tidak bisa diakses lagi). la bercerita bagaimana kabut tebal tiba-tiba turun dan membatu para mujahidin untuk melakukan serangan.

Awalnya, pasukan mujahiddin tengah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati tank-tank tentara Israel guna meledakkannya. “Tak lupa kami berdoa kepada Allah agar dimudahkan untuk melakukan serangan ini,” kata Abu Ubaidah.

Tiba-tiba turunlah kabut tebal di tempat tersebut. Pasukan mujahidin segera bergerak menyelinap di antara tank-tank, menanam ranjau-ranjau di dekatnya, dan segera meninggalkan lokasi tanpa diketahui pesawat mata-mata yang memenuhi langit Gaza, atau oleh pasukan infantri Israel yang berada di sekitar kendaraan militer itu. Lima tentara Israel tewas di tempat dan puluhan lainnya luka-luka setelah ranjau-ranjau itu meledak.
Selamat Dengan al-Qur’an
Cerita ini bermula ketika salah seorang pejuang yang menderita luka memasuki rumah sakit As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget ketika mengelahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku pejuang tersebut.

Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu gagal menembus jantung sang pejuang karena terhalang oleh sebuah buku doa dan mushaf al-Qur’an yang selalu berada di saku sang pejuang.

Buku kumpulun doa itu berlobang, namun hanya sampul muka mushaf itu saja yang rusak, sedangkan proyektil sendiri bentuknya sudah “berantakan”.


Kisah-Kisah Keajaiban Perang di Gaza, Palestina 3

Kisah ini disaksikan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan diceritakannya saat Festival Ikatan Dokter Yordan sebagaimana ditulis situs partai Al Ikhwan Al Muslimun (23/1/2009).

Dr. Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil peluru, mushaf Al Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa berjudul Hishnul Muslim yang menahan peluru tersebut.

Abu Ahid, imam Masjid AnNur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga punya kisah menarik. Sebelumnya, Israel telah menembakkan 3 rudalnya ke masjid itu hingga tidak tersisa kecuali hanya puing-puing bangunan. “Akan tetapi mushaf-mushaf Al Quran tetap berada di tampatnya dan tidak tersentuh apa-apa,” ucapnya seraya tak henti bertasbih.

“Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat yang mengabarkan tentang kemenangan dan kesabaran, seperti firman Allah, ‘Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,”(Al-Baqarah [2]: 155-156),” jelas Abu Ahid sebagaimana dikutip Islam Online (15/1/2009).
Harum Jasad Para Syuhada
Abdullah As Shani adalah anggota kesatuan sniper (penembak jitu) al-Qassam yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang berada di pos keamanan di Nashirat, Gaza.

Jasad komandan lapangan al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh Hamas ini “hilang” setelah terkena rudal. Selama dua hari jasad tersebut dicari, ternyata sudah hancur tak tersisa kecuali serpihan kepala dan dagunya. Serpihan-serpihan tubuh itu kemudian dikumpulkan dan dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya untuk dimakamkan.

Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo. com (24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat disemayamkan di sebuah ruangan di rumah keluarganya. Beberapa lama kemudian, mendadak muncul bau harum misk dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi.

Keluarga Abdullah As Shani’ terkejut lalu memberitahukan kepada orang-orang yang mengenal sang pejuang yang memiliki kuniyah (julukan) Abu Hamzah ini.

Lalu, puluhan orang ramai-ramai mendatangi rumah tersebut untuk mencium bau harum yang berasal dari serpihan-serpihan tubuh yang diletakkan dalam sebuah kantong plastik.

Bahkan, menurut pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria yang tak suka menampakkan amalan-amalannya ini, bau harum itu kembali semerbak memenuhi rungan yang sama.

Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah Musa Hasan Abu Nar, mujahid Al Qassam yang juga syahid karena serangan udara Israel di Nashiriyah. Dr Abdurrahman Al Jamal, penulis yang bermukim di Gaza, ikut mencium bau harum dari sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan Abu Nar. Walau kain itu telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap semerbak.

Ketua Partai Amal Mesir, Majdi Ahmad Husain, menyaksikan sendiri harumnya jenazah para syuhada. Sebagaunana dilansir situs Al Quds Al Arabi (19/1/2009), saat masih berada di Gaza, ia menyampaikan, “Saya telah mengunjungi sebagian besar kota dan desa-desa. Saya ingin melihat bangunan-bangunan yang hancur karena serangan Israel. Percayalah, bahwa saya mencium bau harumnya para syuhada.”
Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir
Yasir Ali Ukasyah sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan sayap milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Ia meninggalkan Mesir setelah gerbang Rafah, yang menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka beberapa bulan lalu.

Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal al-Qur’an ini sempat mengikuti wisuda huffadz (para penghafal) al-Qur’an di Gaza dan bergabung dengan para mujahidin untuk memperoleh pelatihan militer. Sebelum masuk Gaza, di pertemuan akhir dengan salah satu sahabatnya di Rafah, ia meminta didoakan agar memperoleh kesyahidan.

Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi jihad Gaza, ia telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir syahid dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Israel di kamp pengungsian Jabaliya.

Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah dua pekan wafatnya di medan pertempuran tersebut.

Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut serta melakukan evakuasi menyaksikan bahwa darah segar pemuda berumur 21 tahun itu masih mengalir dan fisiknya tidak rusak. Kondisinya mirip seperti orang yang sedang tertidur.

Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya untuk menikah dengan salah satu gadis Palestina, namun ia menolak. “Saya meninggalkan keluarga dan tanah air dikarenakan hal yang lebih besar dari itu,” jawabnya.

Kabar tentang kondisi jenazah pemuda yang memiliki kuniyah Abu Hamzah beredar di kalangan penduduk Gaza. Para khatib juga menjadikannya sebagai bahan khutbah Jumat mereka atas tanda-tanda keajaiban perang Gaza. Cerita ini juga dimuat oleh Arab Times (7/2/ 2009)
Terbunuh 1.000, Lahir 3.000
Hilang seribu, tumbuh tiga ribu. Sepertinya, ungkapan ini cocok disematkan kepada penduduk Gaza. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya nyawa 1.412 putra putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama 22 hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.

Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementerian Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi lahir di Gaza. “Mereka lahir antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009, ketika Israel melakukan serangan yang menyebabkan meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak-anak,” katanya.

Bulan Januari tercatat sebagai angka kelahiran tertinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. “Setiap tahun 50 ribu kasus kelahiran tercatat di Gaza. Dan, dalam satu bulan tercatat 3.000 hingga 4.000 kelahiran. Akan tetapi di masa serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3.700 kelahiran dan pada sisa bulan Januari tercatat 1.300 kelahiran. Berarti dalam bulan Januari terjadi peningkatan kelahiran hingga 1.000 kasus.

Rasio antara kematian dan kelahiran di Gaza memang tidak sama. Angka kelahiran, jelasnya lagi, mencapai 50 ribu tiap tahun, sedang kematian mencapai 5 ribu.
“Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk menghapus masa depan Gaza. Sebanyak 440 anak-anak dan 110 wanita telah dibunuh dan 2.000 anak serta 1.000 wanita mengalami luka-luka.
Komentar kamu ???????????

Minggu, 10 Januari 2010

The Brigade Of Izzudin Al-Qassam (HAMAS)

Pemuda-pemuda Palestina tumbuh dalam desingan peluru-peluru, dentuman meriam, raungan pesawat tempur dan suara tank yang menderu. Hidup mereka jauh dari kenikmatan, dendangan music dan kasur-kasur yang empuk. Itulah tarbiyah yang melahirkan jiwa-jiwa gagah perkasa.

“PERLAWANAN AKAN MENANG DENGAN SENJATA”. Kalimat yang suci ini tercantum dalam kamus orang palestina. Maka lahirlah Brigade Izzudin Al-Qassam (HAMAS), pasukan pemuda-pemuda beriman yang lebih mencintai mati sebagai syuhada daripada hidup harus di bawah naungan orang-orang kafir yang hina. Pasukan yang memiliki keinginan lebih panas bagi bara api yang siiap meledakkan diri di hadapan musuh.

Bagaimana Negara Yahudi yang konon memiliki senjata tercanggih serupa yang di miliki Negara Amerika, begitu ketakutan dengan pemuda-pemuda yang hanya bersenjatakan batu ???.... Maka saksikanlah !!! Wahai Pemuda Islam, sesungguhnya musuh-musuh Allah itu benar-benar pengecut.

“Andakah termasuk Pemuda-pemuda yang di takuti musuh-musuh Allah ??... Jika bukan, sesungguhnya Al-Islam masih mampu dengan sendirinya melahirkan pemuda-pemuda mulia yang gagah perkasa, rela mengorbankan jiwanya untuk mendapat Ridho Allah semata. [Al-Maidah (5):54].



Senin, 19 Oktober 2009

Shalahudin Al-Ayyubi

Shalahudin Al-Ayyubi [1138-1193 Masehi/543-598 Hijriah]

(siapapun yang menguasai Palestina,dia akan menguasai dunia)


Nama aslinya adalah Yusuf, dilahirkan di Tikrit (irak) pada 543 Hijriah atau 1138 Masehi. Ayahnya yang bernama Najmuddin Ayyub berbangsa kurdi berasal dari Azarbaijan. Kakeknya pindah ke baghdad dengan membawa dua putranya yang bernama Najmuddin Ayyub (ayah shalahudin) dan Asadudin Syirkuwah. Kemudian, ayahnya di lantik menjadi panglima perang.

Sejak kecil, shalahudin di bekali ilmu peperangan oleh ayah saudaranya yang bernama Asadudin (seorang panglima perang). Sedangkan, ayahnya membekali ilmu agama kepada Shalahudin sama seperti anak-anak lain pada umumnya dan tidak ada tanda-tanda kelak ketika dewasa dia akan menjadi orang terkenal.

Seorang ahli sejarah Inggris bernama Lane-poole menulis tentang Shalahudin. “sebagai anak gubernur yang di sukai raja, Shalahudin menduduki tempat istimewa. Namun, beliau tidak sombong dan menonjolkan diri. Sebaliknya, beliau memperlihatkan contoh yang baik.”

Shalahudin di didik dan di besarkan seprti pemuda kurdi lainnya. Ketika beranjak dewasa, beliau menjadi pemuda yang jago menunggang kuda serta bergabung dengan pasukan berkuda di kota Aleppo. Kemudian, beliau di pindahkan ke meshir. Pada awalnya, Shalahudin menrima perintah perpindahan tesebut dengan berat hati karena lebih mencintai Kota Aleppo. Namun, setelah berada di Meshir, kariernya menjadi sangat gemilang.

Masih seorang ahli sejarah Lane-poole, “Setelah pindah ke Meshir, Shalahudin mulai menata kehidupannya dengan lebih teratur. Beliau semakin beriman kepada Allah Swt. Dan meninggalkan kehidupan duniawi. Kehidupan yang bergelimang harta dia tinggalkan menjadi hidup sederhana. Beliau pun menjadi teladan dan anutan para prajuritnya. Sejak saat itu, beliau mulai fokus pada satu tujuan utama, yaitu membangun pemerintahan Islam yang kuat agar Kaum Kristen keluar dari Baitul Maqdis.”

Shalahudin Al-Ayyubi telah berubah menjadi seorang yang sangat mencintai agama islam. Beliau bercita-cita kembali merebut Baitul Maqdis dari kekuasaan kaum Kristen. Demi tujuan tersebut, beliau bercita-cita memperkuat pasukan Islam.

Ketika Sultan Nurudin yang memerintah Meshir waktu itu wafat, Shalahudin di lantik menjadi ketua prajurit pasukan Meshir. Impian Shalahudin untuk memperkuat pasukan islam pun terwujud. Kariernya semakin gemilang. Beberapa tahun kemudian, beliau di lantik menjadi Perdana Menteri Meshir. Untuk menguatkan pemerintahannya, beliau menyatukan Meshir,Syiria,Hijaz,dan Yaman di bawah satu pemerintahan.

Seorang ahli sejarah Islam yang bernama Ibnu Shaddad menulis, “Karena terbakar semangat untuk memerangi tentara Salib, jihad menjadi bahasan utama yang sangat di gemarinya. Beliau senantiasa berusaha mencari jalan untuk menguatkan pasukannya, serta berdiskusi dengan siapa saja yang berpendapat mengenai perang tersebut. Untuk menyukseskan usaha jihad, beliau meninggalkan rumah dan keluarganya dan lebih memilih hidup sebagai prajurit islam.”

Selanjutnya, Ibnu Shaddad menulis, “Di medan perang, Shalahudin Al-Ayyubi terlihat seperti seorang ibu yang kehilangan anaknya. Beliau terlihat senantiasa berada di atas kudanya bergerak dari penjuru medan perang ke satu penjuru lain sambil menyeru prajuritnya berjuang hanya karena Allah Swt. Selama perang berlangsung, Shalahudin senantiasa berpuasa walaupun dalam kondisi demam. Oleh karena itu, dokter pribadinya menyarankan berbuka saja.”

Perang demi perang yang di lalui Shalahudin Al-Ayyubi dan pasukan islamnya melawan pasukan salib tidak pernah mengalami sekalipun kekalahan. Beliau dan pasukannya terus merebut daerah/kota-kota yang selama ini di kuasai oleh pasukan salib, kecerdasan beliau dalam melawan kelicikan strategi perang pasukan salib tidak terkalahkan. Pemikiran Shalahudin Al-Ayyubi selalu selangkah di depan daripada pemikiran ahli-ahli perang pasukan Salib.

Puncak perjuangan Shalahudin adalah ketika pasukannya berhasil mengalahkan pasukan Salib di Hittin pada 4 Juli 1187 M. kesuksesan ini menjadikan jatuhnya Baitul Maqdis pada 15 Oktober 1187, tepatnya hari jumat 27 Rajb 583 H.

Karena kemenangan itu, Lane-poole menulis, “Bunga kesatriaan sudah di sandang Shalahudin Al-Ayyubi. Raja Baitul Maqdis. Reginald of Chatillon, Joscelin of Courlenay, Humphrey of Toron, Master of the Temple and Hospital, dan banyak lagi pemimpin lainnya yang di tawan dan berada di bawahtawanan pasukan islam. Salah satu dari anggota pasukan prajurit Arab terlihat menawan tiga puluh prajurit pasukan Kristen. Mayat-mayat bergelimpangan di samping salib-salib yang patah dan kepala-kepala bergelimpangan di atas tanah bagaikan buah semangka.”

Ketika Kota Yerusalem berada di bawah kekuasaan pasukan salib pada 15 Juli 1099 M, keadaannya sangat mengenaskan. Pasukan Salib sangat kejam membunuh hampir semua penduduk yang beragama islam, termasuk wanita, orang tua, dan anak-anak. Pembunuhan kejam itu di lakukan selama seminggu sehingga tidak ada lagi penduduk Islam di Kota Yerusalem yang selamat.

Dalam bukunya yang berjudul Al-Kamil fit tarikh, Ibnu Athir menyebutkan bahwa, “Sebelum sampai ke Yerusalem, pasukan salib yang berada di pimpinan Raja Reymond menaklukan satu tempat bernama Maaratun Nu’man. Di sana, pasukan salib membunuh lebih dari seratus ribu umat Islam dan melemparkan mayatnya ke dalam kobaran api.”

SedangkaN, Gustav Le Bon dalam bukunya tentang perang salib, menuliskan, “Pasukan Salib yang mengaku taat beragama, terus-menerus menzalimi dan menyerang unat islam. Bahkan, mereka sepakat membunuh seluruh penduduk Baitul Maqdis. Korban kekejaman tersebut bukan saja menimpa umat Islam, tetapi orang Yahudi dan Kristen yang tidak mau bekerja sama dengan pasukan salib tak luput dari kekejaman tersebut. Akibatnya, sekitar enam puluh ribu orang di bunuh dalam waktu delapan hari delapan malam sehingga tak ada satu pun yang selamat.”

Akan tetapi, ketika Yerusalem berhasil di kuasai pasukan Islam pada 15 oktober 1187 M, terjadilah hal sebaliknya. Shalahudin Al-Ayyubi memerintahkan pasukan Islam untuk memperlakukan tawanan dengan baik. Tidak ada seorangpun penduduk yang beragama Kristen di Kota Yerusalem di bunuh atau di aniaya. Sebaliknya, penduduk yang beragama Kristen termasuk pasukan salib yang di tawan di bebaskan untuk meninggalkan yerusalem dengan membayar uang tebusan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Setelah Shalahudin Al-Ayyubi berhasil menguasai Yerusalem dan mengadakan perjanjian dengan pasukan salib, beliau kembali ke Damaskus. Walaupun ketika itu beliau menjadi pemerintah dari Meshir hingga Yaman dan namanya sangat terkenal karena berhasil menaklukan Baitul Maqdis dari pasukan Salib, Shalahudin Al-Ayyubi tetap memilih hidup sederhana. Beliau lebih suka tinggal di tenda Pasukan ketimbang tinggal di istana,beliau adalah pemimpin yang di tunggu-tunggu Dunia Islam.

Pada 16 safar 598 H, Shalahudin Al-Ayyubi jatuh sakit. Kemudian, beliau meninggal dunia pada malam 27 bulan Safar 598 H (Maret 1193 M). ketika meninggal, beliau berusia 55 tahun dan di makamkan di damaskus, Syiria. Ketika meninggal dunia, beliau tidak mempunyai rumah dan uang walaupun empat dinar. Itulah bukti pahlawan islam yang kehidupan di dunia hanya untuk Allah Swt semata. Subhanallah ….

Itulah sekilas kisah tentang sejarah pahlawan islam yaitu Sultan Shalahudin Al-Ayyubi, beliau adalah sosok inspirasi bagi siapa saja yang sedang memperjuangkan agama Islam, yang sekarang-sekarang ini sedang terpeceh belah. Saya adalah satu dari jutaan umat Muslim yang mengagumi beliau.

Kisah di atas saya tulis sehabis saya membaca berulang-ulang buku, yang berjudul, “Shalahudin Al-Ayyubi, Sang Penakluk Yerusalem” karya Abdul Latip Talib. Buku yang luar biasa bagi orang-orang yang jiwanya ingin berjihad melawan kemungkaran.

Sosok Shalahudin Al-Ayyubi di zaman sekarang adalah HAMAS. Pasukan Islam yang terus berjihad melawan zioniz laknatulloh. Mereka tidak pernah lelah dalam mengejar syahid. Mereka akan terus berperang sampai wilayah Israel menjadi Palestina kembali. Mereka akan terus mengirim pasukan zioniz ke neraka jahanam. Teruslah berjuang wahai kau HAMAS !!! Aku akan mendukung sepenuh hati sampai adzal menjemputku. Allahhuakbar Allahhuakbar Allahhuakbar !!!!



Senin, 12 Oktober 2009

Masjidil Aqsa

Masjidil Aqsa

Masjidil Aqsa pernah di kuasai oleh kerajaan Roma & berhasil di rebut oleh orang-orang islam pada pemerintahn Sayidina Umar bin Khathab ..
Kemudian pada tahun 490 Hijriyah/1099 Masehi, Baitul Maqdis di kuasai pasukan Salib .. pasukan islam yang d pimpin oleh Shalahudin Al-Ayyubi berhasil merampasnya kembali pada tahun 588 H yang bertepatan dengan 1192 M ..
Saat ini zioniz laknatulloh berupaya menghancurkn Masjidil Aqsa, tapi seblum mereka menghncurkn Masjidil Aqsa .. Mesjid & tanah Palestina yang di rebut israel, akan di rebut oleh THE BRIGADE OF IZZUDIN AL QASSAM [HAMAS] !!
Hancurlah kalian zioniz ! Tmpat kalian hanya di Neraka !!
Allahuakbar !! Allahuakbar !! Allahuakbar !!



Dan Seketika Israel Menjadi Palestina

Dan Seketika Israel Menjadi Palestina

Helikopter yang membawaku

berhenti di atas Tel Aviv

aku turun dengan tali

syuuut

Pemerintah Israel menjemputku

mosad-mosad menggendongku

mereka mengira aku sebagai

orang yang ku bius di Indonesia

seorang yahudi yang melakukan desepsi

ke Partai Dakwah

‘Anda jadi mirip melayu?’

kata salah satu agen mosad

aku tersenyum dan membalasnya

dengan bahasa ibrani

‘aku memang melayu kawan!’

sontak mereka semua tertawa

terbahak-bahak, terkencing-kencing

ya begitulah intelejen zionis

kalau sedang bercanda

Dua tahun berlalu aku disini

di negeri para penjajah

dengan menyamar sebagai penjajah

rupanya otodidak belajar bahasa ibrani

lewat internet tak sia-sia

Rapat itupun berlangsung

diskusi yang alot, dan hasilnyapun ditetapkan

aku bertakbir dalam hati

‘bagaimana? kau siap Luthfie?’

tanya kepala intelejen Israel

‘siap pak!’ jawabku tegas

Aku ditugaskan melakukan desepsi

ke Partai Hamas di Palestina

desepsi artinya penyusupan untuk

target tertentu, seperti aku sekarang di Israel

aku jadi di kenal dengan nama Luthfie

sebuah nama samaran agen mosad

yang disusupi ke Indonesia

Di Palestina, namaku menjadi Muhammad Luthfie

misiku membunuh pimpinan Hamas

tapi itu takkan terjadi

sebab aku pendukung Hamas sejati

pendukung kemerdekaan Palestina sejati

Beberapa lama di Palestina

aku ceritakan semuanya pada Hamas

dan mereka sangat mempercayaiku

aku di percaya mendampingi komandan

Brigade Izzudin Al-Qassam

ku beri tahu semua titik lemah

Negara zionis tersebut

Untuk memuluskan rencanaku

ku minta bantuan hizbullah dari arah utara

ku hubungi Iran membantu persenjataan kami

Iranpun mengirimkannya lewat kapal selam

rencana sudah bulat

tanggal 21 April 2020

bumi Palestina harus bersih dari zionis

saudara-saudara di Indonesiapun

ku minta doanya

Pukul 23.00, tanggal 20 April 2020

handphoneku bergetar

sms dari komandan mosad

‘jalankan rencana, dia harus mati malam ini,

kabari aku besok pagi, bersembunyilah di tempat

yang telah kita sepakati, nanti sore mosad menjemputmu.’

aku balas : ‘beres bos.’

Sudah kuduga.

Besok pagi rencananya mereka pesta

semua tentaranya malam ini pulas

dengan mimpi-mimpi sombongnya

Di pagi buta itupun, operasi kami mulai

sekitar pukul 01.00 waktu Palestina

kami tak berniat menghancurkan infrastruktur

kami tak berniat membangunkan mereka

walau kami bisa melakukannya

ada dua battalion yang berbeda tugas

Pasukan geriliya dan pasukan perbatasan

geriliya ekspansi, perbatasan berjaga

kurang lebih dua jam kami berhasil

membius semua Yahudi itu

biusan yang tahan selama satu minggu

kami masukkan mereka ke penjara besar

bawah tanah di kota Gaza

dan seketika Israel menjadi Palestina

pagi itu… Amerika hanya bisa menggerutu

mendengar siaran BBC

tentang kemerdekaan Palestina

Negara-negara Arab berpesta

saat nonton Al-Jazera

Indonesiapun bertakbir di depan Televisi

[impian Alm.M.Luthfie,Puisi Petualang]


Untukmu Hamas

Untukmu Hamas

Hamas! betapa luhur perjuanganmu

tak sejengkalpun tanah Palestina kau rela

untuk tidur anjing-anjing zionis

Hamas! sampai matipun kami mendukungmu

menghancurkan teroris Israel

sehancur-hancurnya

Hamas! kalian adalah tentara Tuhan

Tuhan yang melindungi kalian

jangan gentar oleh embergo dan konspirasi

musuh-musuh Tuhan

Hamas! mereka mengkhianatimu

Fatah mengkhianati-Mu, mereka takut oleh gertakan

musuh-musuh Tuhan, mereka benar-benar munafik

Hamas! hancurkan zionis Israel laknatullah

dan biarkan munafik-munafik itu

di binasakan Tuhan

[Puisi Petualan,Alm.M.Luthfie]



Bocah Palestina

Bocah Palestina

Mereka terobsesi oleh kematian

batu-batu menjadi sahabatnya

tak gentar di depan tank-tank zionis

Merekalah anak-anak surga

Walau seandainya intifadhah setiap hari

mereka takkan pernah habis

Hancurlah kau yahudi!

biar batu kecil ini

mengantarmu ke neraka


[Puisi Petualang,Alm.M.Luthfie]